Indonesiafakta.com — Dua anggota Garda Nasional Amerika Serikat ditembak di dekat Gedung Putih pada Rabu (26/11/2025) waktu setempat, memicu kepanikan dan lockdown di jantung ibu kota Washington, D.C. Insiden ini menyoroti kembali potensi ancaman terhadap keamanan di salah satu lokasi paling sensitif di negara itu, di mana protokol keamanan ketat biasanya diterapkan.
Menurut laporan awal, kedua korban merupakan anggota Garda Nasional dari Virginia Barat. Kantor Gubernur Virginia Barat, Patrick Morrisey, menyampaikan melalui akun X bahwa kedua anggota Garda Nasional tersebut telah meninggal dunia akibat luka-luka yang diterima. Namun, beberapa jam kemudian, Morrisey mengunggah pernyataan kedua yang mengklarifikasi bahwa informasi tersebut masih belum pasti, menyebut adanya laporan yang saling bertentangan mengenai kondisi para korban. Saat ini, keduanya dilaporkan masih dalam kondisi kritis dan menerima perawatan medis intensif.
Seorang pejabat pemerintahan Trump mengungkapkan bahwa tersangka pelaku penembakan juga dibawa ke rumah sakit dalam kondisi terluka akibat tembakan. Identitas tersangka belum dipublikasikan, dan motif penyerangan masih dalam penyelidikan. Beberapa sumber penegak hukum menyatakan bahwa pelaku tampaknya secara sengaja menargetkan anggota Garda Nasional, meskipun detail lebih lanjut mengenai latar belakang atau alasan tindakan tersebut belum diungkapkan.
Insiden ini memicu lockdown di area Gedung Putih dan sekitarnya. Jalan-jalan ditutup sementara, dan personel keamanan diperbanyak untuk memastikan keselamatan publik serta mengendalikan situasi. Pejalan kaki dan pengunjung di sekitar National Mall juga diminta untuk menghindari area tersebut hingga situasi dinyatakan aman. Lockdown ini menjadi pengingat bagi masyarakat dan pemerintah tentang kerentanan keamanan di pusat pemerintahan Amerika Serikat, meskipun Gedung Putih dilengkapi dengan berbagai sistem pengamanan canggih.
Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi serangan terhadap personel militer atau lembaga pemerintahan. Garda Nasional, yang memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dalam negeri serta mendukung operasi federal dan negara bagian, menjadi target yang sangat sensitif. Para pejabat menekankan bahwa keselamatan anggota Garda Nasional selalu menjadi prioritas utama, dan insiden ini memicu evaluasi ulang terhadap protokol keamanan di lokasi-lokasi strategis.
Sejauh ini, pihak kepolisian federal bekerja sama dengan Secret Service, Departemen Keamanan Dalam Negeri, dan pihak berwenang lokal untuk menyelidiki peristiwa penembakan tersebut. Langkah-langkah penyelidikan termasuk meninjau rekaman CCTV, menginterogasi saksi, dan melakukan pemeriksaan forensik di lokasi kejadian. Selain itu, pihak berwenang juga menelusuri kemungkinan keterkaitan tersangka dengan kelompok atau organisasi tertentu yang memiliki potensi ancaman terhadap keamanan nasional.
Reaksi dari masyarakat dan pejabat publik sangat cepat. Beberapa politisi mengutuk keras aksi kekerasan ini, menyerukan agar penegak hukum melakukan tindakan tegas terhadap pelaku dan memastikan keselamatan publik. Media sosial juga ramai dengan laporan dan spekulasi mengenai insiden tersebut, namun pihak berwenang menekankan pentingnya informasi resmi untuk menghindari kebingungan dan kepanikan.
Insiden penembakan ini menjadi pengingat serius tentang risiko yang dihadapi oleh anggota Garda Nasional dan personel keamanan lainnya. Meskipun jumlah kasus serangan terhadap personel militer relatif jarang, kejadian ini menunjukkan bahwa ancaman tetap nyata, terutama di lokasi yang sarat simbolisme dan memiliki kepentingan strategis tinggi. Pemerintah federal diperkirakan akan meningkatkan pengawasan dan memperkuat prosedur keamanan untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Seiring perkembangan situasi, kondisi kedua korban akan terus dipantau. Penyelidikan terhadap pelaku juga masih berlangsung, termasuk upaya untuk mengungkap motif di balik penembakan yang tampaknya disengaja ini. Keseriusan insiden ini mencerminkan tantangan berkelanjutan dalam menjaga keamanan di pusat pemerintahan Amerika Serikat, sekaligus menegaskan pentingnya koordinasi antara lembaga federal dan negara bagian dalam menghadapi ancaman yang muncul secara tiba-tiba.