Idul Fitri Paling Sunyi Di Yerusalem Jemaah Dilarang Shalat Id Di Masjid Al-Aqsa

Indonesia Fakta – Dunia Islam merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah dengan penuh suka cita, namun pemandangan kontras dan memilukan terjadi di jantung Kota Tua Yerusalem. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun—sejak perang tahun 1967—kompleks Masjid Al-Aqsa, situs tersuci ketiga bagi umat Islam, ditutup sepenuhnya bagi jemaah yang hendak melaksanakan shalat Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026.

Idul Fitri Paling Sunyi Di Yerusalem Jemaah Dilarang Shalat Id Di Masjid Al-Aqsa

Biasanya, menjelang 1 Syawal, gang-gang sempit di Kota Tua Yerusalem akan berdenyut dengan kehidupan. Lantunan takbir bersahut-sahutan, aroma kue lebaran tercium dari dapur-dapur warga, dan ribuan orang berbondong-bondong membawa sajadah menuju Al-Haram asy-Syarif. Namun tahun ini, Yerusalem memasuki masa perayaan dengan suasana yang mencekam dan muram.

Otoritas keamanan Israel menerapkan penutupan total dengan dalih “keamanan nasional” di tengah meningkatnya ketegangan konflik regional dengan Iran. Akses menuju Masjid Al-Aqsa digembok rapat, meninggalkan kawasan yang biasanya dipadati lebih dari 100.000 jemaah itu menjadi sunyi senyap. Toko-toko milik warga Palestina dipaksa tutup, kecuali apotek dan penyedia bahan pokok, menjadikan pusat kota ini menyerupai kota mati.

Sujud di Atas Aspal di Bawah Todongan Senjata

Larangan shalat di dalam masjid tidak menyurutkan niat warga Palestina untuk tetap menghidupkan syiar Idul Fitri. Sejak fajar menyingsing, ratusan jemaah mencoba mendekati pintu-pintu gerbang Kota Tua, seperti Gerbang Damaskus (Bab al-Amud) dan Gerbang Herodes (Bab al-Sahira). Karena dihalangi masuk, mereka akhirnya menggelar sajadah di trotoar dan aspal jalanan.

Ketegangan sempat memuncak saat polisi Israel mencoba membubarkan kerumunan tersebut. Laporan dari lapangan menyebutkan penggunaan granat kejut dan gas air mata untuk menghalau jemaah yang merangsek maju. Di bawah pengawasan ketat aparat bersenjata lengkap, para jemaah melakukan shalat Id dalam durasi yang sangat singkat. Suara takbir yang biasanya membahana lewat pengeras suara menara masjid, kini hanya terdengar lamat-lamat dari kerumunan kecil di sudut-sudut jalan yang dijaga barikade beton.

Alasan Keamanan atau Tekanan Politik?

Pihak berwenang Israel berkilah bahwa pembatasan ini diperlukan untuk meminimalkan risiko kerumunan di tengah ancaman serangan rudal jarak jauh. Namun, bagi para tokoh agama dan warga setempat, kebijakan ini dianggap sebagai eksploitasi situasi perang untuk mengubah status quo di kompleks Al-Aqsa.

Syekh Ekrima Sabri, khatib Masjid Al-Aqsa, menyebut situasi ini sebagai “bencana bagi kebebasan beragama.” Beliau menekankan bahwa menutup pintu masjid saat hari raya adalah tindakan provokatif yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala selama ini. Para pengamat internasional juga menyoroti adanya standar ganda, di mana aktivitas di luar Kota Tua tetap berjalan normal sementara pembatasan ketat hanya menyasar warga Muslim di area suci.

Luka Batin dan Harapan yang Tersisa

Bagi warga Yerusalem, Idul Fitri kali ini bukan sekadar kehilangan momen ritual, melainkan luka batin yang mendalam. “Ramadhan tanpa Al-Aqsa terasa seperti patah hati yang tidak ada obatnya,” ujar salah satu jemaah yang terpaksa pulang tak lama setelah shalat di jalanan selesai.

Meskipun fisik mereka dilarang memasuki pelataran masjid, semangat perlawanan melalui doa tetap kental. Di akhir khotbah singkat di pinggir jalan, sang khatib menyerukan pesan penguat agar umat tetap sabar menghadapi penindasan. Perayaan yang sunyi ini menjadi pengingat bagi dunia bahwa di balik gemerlap hari kemenangan, ada ribuan jiwa di Yerusalem yang harus merayakan Idul Fitri dalam keheningan dan isolasi.