Polda Sumut Hadirkan K‑9 untuk Edukasi Anak di Pengungsian Tapanuli Selatan

Indonesiafakta.com — Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) hadir di tengah situasi sulit pascabencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan dengan cara yang berbeda dan humanis: menghadirkan satuan anjing pelacak K‑9 untuk memberikan edukasi sekaligus membantu pemulihan psikologis anak‑anak di pengungsian. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya Polda Sumut dalam menyentuh sisi kemanusiaan korban, terutama kelompok rentan seperti anak‑anak, di tengah kondisi penuh tekanan pascabencana.

Latar Belakang Kegiatan

Bencana alam berupa banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera Utara, termasuk Kecamatan Batang Toru di Tapanuli Selatan, menyebabkan banyak warga harus mengungsi di posko‑posko pengungsian. Kondisi ini tidak hanya membawa dampak fisik berupa kehilangan harta benda dan tata hidup normal, tetapi juga menyisakan trauma psikologis bagi anak‑anak, yang mengalami rasa takut, kehilangan, dan ketidakpastian.

Menanggapi kondisi itu, Polda Sumut melaksanakan kegiatan trauma healing dan edukasi bagi anak‑anak pengungsi melalui pendekatan yang unik: kehadiran satwa K‑9 (anjing pelacak) yang terlatih. Kegiatan ini dilaksanakan pada akhir Desember 2025 oleh Unit Polsatwa K‑9 Direktorat Samapta Polda Sumut bersama dengan personel pendukung dari BKO SAR Dit Polsatwa Baharkam Polri.

Peran Satwa K‑9

Satwa K‑9 yang diperkenalkan kepada anak‑anak bukan hanya berfungsi sebagai hiburan. Anjing pelacak yang terlatih ini memiliki peran ganda—edukasi dan terapi psikologis. Dalam kegiatan di lokasi pengungsian, personel Polda Sumut mengajak anak‑anak berinteraksi langsung dengan anjing‑anjing tersebut, memberikan penjelasan tentang peran mereka dalam operasi SAR (Search and Rescue), serta membangun suasana interaktif yang menyenangkan.

Pendekatan ini dirancang untuk membantu anak‑anak mengalihkan fokus dari pengalaman traumatis mereka. Interaksi dengan hewan, khususnya anjing yang ramah dan terlatih, dikenal memiliki efek positif dalam mengurangi rasa takut, kecemasan, dan stress pascabencana. Kegiatan ini juga membantu menciptakan suasana ceria di tengah kondisi pengungsian yang seringkali penuh dengan kesedihan dan kebingungan.

Kepala Bidang Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, menekankan bahwa kehadiran K‑9 di pengungsian bukan semata hiburan, melainkan bagian dari proses trauma healing yang penting. Ia mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen Polri dalam memberikan perlindungan dan pelayanan menyeluruh kepada masyarakat, tidak hanya dari sisi keamanan dan penanganan bencana, tetapi juga pemulihan psikologis korban, terutama anak‑anak sebagai kelompok paling rentan.

Implementasi di Pengungsian

Kegiatan yang dimulai sejak pagi hari itu dilakukan di Posko Pengungsian di Desa Sumuran, Kecamatan Batang Toru. Tim K‑9 dan personelnya mempersiapkan anjing‑anjing SAR dan berbagai sarana edukatif serta permainan untuk anak‑anak. Suasana yang awalnya dipenuhi kecemasan mulai berubah menjadi lebih hangat dan penuh tawa saat anak‑anak melihat dan berinteraksi langsung dengan anjing pelacak.

Melalui permainan edukatif dan pengenalan terhadap kemampuan K‑9, anak‑anak tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga pembelajaran tentang peran anjing pelacak dalam penanganan bencana, sehingga dapat membuka wawasan mereka tentang kerja tim SAR dan pentingnya keberadaan anjing pelacak dalam kondisi darurat.

Dampak dan Harapan

Kegiatan ini berhasil menciptakan suasana positif yang dibutuhkan anak‑anak untuk melepaskan ketegangan emosional pascabencana. Interaksi dengan anjing K‑9 memberi mereka rasa aman, ceria, dan pengalihan fokus dari trauma yang dialami. Dampak positif seperti ini merupakan salah satu bentuk pemulihan psikologis penting yang mendukung proses adaptasi kembali pada kehidupan normal.

Lebih luas, pendekatan humanis seperti ini menunjukkan bahwa penanganan pascabanjir tidak hanya soal penyediaan logistik, hunian, atau akses air bersih, tetapi juga pemulihan emosional dan psikososial masyarakat, khususnya anak‑anak—yang kelak akan menjadi generasi penerus yang kuat dan tangguh.

Langkah Polda Sumut menghadirkan satwa K‑9 sebagai media edukasi dan terapi bagi anak‑anak di pengungsian Tapanuli Selatan merupakan contoh implementasi penanganan pascabencana yang menyentuh aspek psikologis dan edukatif. Pendekatan ini tidak hanya memberikan hiburan sementara, tetapi juga membantu dalam proses trauma healing dan membuka peluang pembelajaran positif bagi anak‑anak di tengah kondisi penuh tantangan. Melalui strategi ini, diharapkan anak‑anak dapat pulih secara emosional, kembali ceria, dan meraih rasa aman yang sangat dibutuhkan pascabencana.